Pagi itu, suasana di Rumah Qur’an terasa beda. Udara masih sejuk, tapi hati para ummahat sudah hangat duluan. Melalui Kajian Dhuha Session 1, kita mengawali perjalanan dengan tema yang menggugah jiwa dan membangunkan kesadaran: “The Awakening: Ketika Usia 40 Memanggil Kesadaran.”
Bukan sekadar angka. Empat puluh itu fase. Fase di mana hidup nggak lagi cuma soal ambisi, tapi soal arti. Bukan lagi sibuk membuktikan diri ke dunia, tapi mulai sibuk menyiapkan bekal untuk akhirat.

Usia 40: Titik Bangun, Bukan Titik Lelah
Beliau mengajak para ummahat merenungi doa dalam Al-Qur’an tentang usia matang saat seorang hamba memohon kepada Allah agar dimampukan bersyukur atas nikmat-Nya dan dibimbing untuk memperbaiki amalnya. Pesannya sederhana, tapi langsung menembus hati.
“Kalau bukan sekarang kita sadar, mau tunggu kapan lagi?”
Suasana jadi hening sejenak. Lalu satu per satu wajah para ibu terlihat mengangguk. Ada yang tersenyum, ada yang berkaca-kaca. Awakening moment banget.
Ruang Aman untuk Jujur dan Bertumbuh
Ustadz Miftah, konselor dari Najma Institut, memandu diskusi dengan penuh energi dan kehangatan. Dengan gaya yang komunikatif dan sangat dekat dengan realita rumah tangga, beliau membuka ruang aman bagi para ummahat untuk berbicara jujur tentang luka yang belum pulih, lelah yang selama ini mereka simpan, dan harapan yang nyaris terkubur oleh kesibukan.
Tawa pun pecah di beberapa momen. Ada yang cerita soal drama anak remaja, ada yang curhat soal suami yang “kadang peka kadang enggak” (dan ruangan langsung heboh setuju). Tapi di balik canda itu, ada kesadaran yang tumbuh perlahan.
Recharge Iman, Recharge Hati
Kajian ini bukan cuma serius-serius tegang. Justru yang terasa adalah keceriaan. Para ummahat datang bukan hanya untuk duduk mendengar, tapi untuk recharge iman dan hati. Senyum mereka sumringah. Aura ukhuwah terasa kuat. Ada pelukan, ada saling sapa, ada doa yang diam-diam dipanjatkan untuk satu sama lain.
Sebagai bentuk apresiasi dan dukungan, di akhir sesi para peserta juga mendapatkan paket sembako. Ini bukan sekadar bantuan, melainkan simbol bahwa majelis ilmu turut peduli pada kebutuhan nyata umat. Karena itu, ketika panitia membagikan sembako satu per satu, wajah-wajah bahagia para ummahat langsung terpancar penuh syukur. MasyaAllah, sederhana namun sarat makna.
Belum selesai sampai di situ, suasana makin ramai dengan hadirnya bazar preloved setelah kajian. Meja-meja dipenuhi barang-barang layak pakai yang masih bagus banget. Dari gamis cantik sampai perlengkapan rumah tangga, semuanya jadi ajang berbagi dan saling menguatkan. Yang satu melepas dengan ikhlas, yang lain menerima dengan syukur. Circle kebaikan banget vibes-nya.
Kajian Dhuha Session 1 ini benar-benar jadi pembuka yang powerful. Bukan cuma membuka acara, tapi membuka hati. Membuka kesadaran bahwa usia adalah amanah. Dan ketika 40 memanggil, itu bukan ancaman itu undangan.
Undangan untuk pulang.
>Undangan untuk memperbaiki.
>Undangan untuk bangun dan jadi versi terbaik sebelum benar-benar dipanggil pulang selamanya.
Dan pagi itu, para ummahat memilih untuk menjawab panggilan itu. 🌿